Kamis, 17 Februari 2011

Diantara HARAPAN dan AnGaN - ANgaN oleh: m iman taufiqurrahman

Seorang petani yang mencari benih unggul Padi, sengaja ia memilih yang terbaik, walau sedikit mengeluarkan “biaya lebih” dari kantongnya. Dia olah tanah sawahnya dengan cara terbaik, walau sedikit menghabiskan “waktu lebih” di sekotak sawahnya. Tidak lupa ia memupuk dengan pupuk alami dan kimia sesuai arahan “mentornya” di kelompok tani. Setiap hari ia mengolah tanahnya, mengusir hama dan gulma yang akan menggerogoti tanaman pertaniannya, walau kerap ia menggunakan “tenaga lebih” untuk itu.
Kiranya inilah petani yang boleh berHARAP 3 bulan lagi ia akan memanen hasil usahanya. Bahkan wajib “berharap lebih” karena ia telah menggunakan WAKTU, BIAYA, dan TENAGA “lebih” dari yang lainnya dalam mengelola dan memelihara tanaman pertaniannya.

Sebaliknya jika bukan benih unggul yang ditanam, tidak ditanam di lahan tanah yang subur, tidak mengolahnya dengan serius, tidak memelihara dengan tekun…  ia seringkali ongkang ongkang kaki, terlelap dalam lamunan di kursi malas, maka 3 bulan lagi akan memanen hasil taninya dengan hasil yang banyak itulah namanya “ANGAN ANGAN”.


Itulah bedanya Harapan (Roja’) dengan Angan-angan (Amaniy)

(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. (QS 4/123)

Barang siapa yang MENGHARAP pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS 29/5)

YA RABB!
Diantara Harap dan Angan ... aku berdiri
beri hamba kekuatan HARAP yang KUAT
dan sirnakan Ketinggian ANGAN-ANGANku

Hamba berharap
kelak digabungkan dengan jama'ah hamba-hamba-MU
diseru dengan seruan penuh RAHMAH
di persilahkan memasuki Surga-Mu

Hamba berharap bertemu dengan-MU
menatap Wajah-MU
menikmati keindahan estetika TERINDAH
duhai lezatnya....

RAbb!
Qabulkanlah.


MIT VOICE
Saung Harap, 18 Februari 2011 M
Read More »»»

Jumat, 11 Februari 2011

MERAIH RIZQI HALAALAN THAYYIBA oleh: m iman taufiqurrahman


Rizqi  didalam presfektif Rububiyyah itu ada 3 Macam:
ฮ  Harta Yang Dijaminkan Allah SWT
ฮ Harta Yang Wajib ditinggalkan
ฮ Harta Yang Wajib diUsahakan

ฮ
harta yang
dijaminkan

Firman Allah SWT:
“dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS Huud (11) ayat 6)

“ dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS Al-Ankabut (29) ayat 60)

Ayat ini mengandung jaminan pasti dari Allah SWT, bahwa setiap yang bernyawa pasti telah dijamin rizqinya oleh Ar-Rozaq. Ini adalah anugerah dari Allah SWTdimana seluruh makhluq-Nya yang bernyawa tidak perlu mengusahakan jenis rizqi yang telah dijaminkan (madhmun) oleh Allah bagi makhluqNya.

Penjaminan Allah itu ada dua: yang direct (langsung) dan yang indirect (tidak langsung).

Rizqi Madhmun (jaminan Allah) yang langsung misalnya; Udara, cahaya, sinar matahari, dinginnya malam adalah rizqi dari Allah SWT tanpa perlu manusia mengusahakannya. 

Rizqi Madhmun (jaminan Allah) yang tidak langsung misalnya seorang musafir yang dijamin oleh baitul maal (kas negara Islam) dalam pos Ibnu sabil. Atau para pekerja dan aparat  yang mendapat bagian dari baitul maal melalui pos Fisabilillah. Atau orang-orang Miskin yang juga mendapat bagian dari baitul maal melalui pos Masaakin dan lain-lain. Inilah jaminan rizqi dari Allah SWT melalui kewajiban negara Islam untuk menyalurkannya.  Dan orang orang yang rizqinya telah dijamin Allah melalui penyaluran Baitul Maal (kas negara Islam) itu yang sering disebut Ashnafu Tsamaniyyah (8 pos anggaran belanja negara Islam). Firman Allah SWT: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah (9) ayat 60)

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa 8 pos APBN Islam ini akan berlaku secara sempurna jika sabab-nya telah sempurna. Sabab yang sempurna itu adalah “Istikhlaf” yaitu Negara Islam Berkuasa penuh secara de facto baik kedalam maupun keluar. Karena kalau telah tercapai “Istikhlaf” dengan sempurna maka Allah menjanjikan “Baldatun Tyayyibatun wa Robbun Ghafuur” (QS 34/15), yaitu negri yang gemah ripah loh jinawi, negri yang sejahtera, adil dan qishty, negri yang makmur dan mampu menjamin seluruh kebutuhan pokok rakyatnya sembari dinaungi ridha dan ampunanNya.

Diceritakan bahwa pada hari kedua setelah pengangkatannya selaku Khalifah, Abû Bakr kembali menjalani pekerjaannya sebagai pedagang bahan pakaian. Dia memanggul sendiri dagangannya dan pergi untuk menjualnya.
Di tengah jalan, dia dijumpai oleh ‘Umar ibn l-Khaththâb yang bertanya kepadanya : “Hendak kemana anda?”
“Ke pasar,” jawab Abû Bakr.
Kata ‘Umar : “Apa yang anda lakukan, sesungguhnya anda telah diangkat selaku pimpinan kaum Muslimin.”
(Dalam riwayat lain, ‘Umar berkata : “Sesungguhnya anda telah memikul urusan yang akan menyibukkan anda dari berjualan di pasar.”)
Kata Abû Bakr : “Lantas dari mana aku akan memberi makan keluargaku?” (atau Abû Bakr berkata : “Subhanallâh, benarkah aku akan tersibukkan sedemikian rupa sampai tidak sempat menafkahi keluargaku lagi?”)
Kata ‘Umar : “Pergilah menemui Abû ‘Ubaidaĥ (pemegang kunci Baitu l-Mâl), dia akan menetapkan tunjangan untukmu.”
(atau ‘Umar berkata : “Kami akan menetapkan tunjangan yang pantas untukmu.”).
Kata Abû bakr : “Bagaimana engkau ini hai ‘Umar, sesungguhnya aku takut (kalau aku) bukan orang yang berhak memperoleh makan dari harta Baitu l-Mâl.”
Akhirnya, setelah didesak, Abû Bakr pun pergi menemui Abû ‘Ubaidaĥ diantar oleh ‘Umar. Kata Abû ‘Ubaidaĥ : “Aku akan menetapkan tunjangan bagimu senilai tunjangan yang diberikan kepada para Muhâjirîn, tidak lebih besar, tidak pula lebih rendah. Engkau juga berhak memperoleh pakaian untuk musim dingin dan musim panas. Apabila telah usang, tukarkanlah padaku.”
Maka Abû ‘Ubaidaĥ menetapkan tunjangan bagi Abû Bakr sebesar setengah syât per hari (atau empat ribu dirham per tahun).


Jika sabab’ itu belum terpenuhi dengan sempurna, maka perhatikan kisah Bani Israil pada zaman Musa AS yang meminta-minta fasilitas kepada Rasul (pemerintahan Islam) sebelum tercapainya futuh (kemenangan) menguasai negri kan’an (palestina), lihat QS 2/61.  Atas permintaan ummatnya itu Musa AS menjawab “pergilah kamu ke suatu Kota, karena apa yang kamu minta semua ada disana!”. Maksudnya Kuasai dulu suatu kota / negri yakni Palestina, sebab setelah Islam berkuasa maka segala kebutuhan pokok rakyatnya menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya.

Artinya Ashnafu Tsamaniyyah (8 pos APBN ISLAM) juga berlaku tidak sempurna karena sababnya belum berlaku dengan sempurna.




ฮ
Harta Yang
Wajib ditinggalkan

Harta yang Matruk (wajib ditinggalkan) adalah harta yang Haram dan fasaad. Harta yang Haram itu dilihat dari dua sisi: satu sisi dari jenis hartanya yang haram untuk dikonsumsi dzatnya (haram lidzaatih) dan dari sisi usahanya yang haram (haraam likasbihi)

Misalnya Khamr (minuman keras), darah, daging babi dan sembelihan yang tidak menyebut nama Allah adalah jenis barang (dzat) yang haram untuk dikonsumsi (QS 2/173), walaupun barang itu dari usaha yang halal.

Atau barang yang halaal untuk dikonsumsi tetapi dihasilkan dengan usaha yang tidak legal sepanjang hukum Islam, misalnya dari hasil mencuri (QS 5/38), menipu (ghaasy), dan lain-lain.

Perhatikan kisah seorang yang berdo’a kepada Allah SWT tetapi do’anya terhalang harta yang MATRUK.

Ada seorang laki-laki – begitu diceritakan dalam sebuah hadits Muslim dan Turmudzi – yang datang dari jauh, rambutnya tidak terurus, penuh dengan debu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa : “Yā Rabbi, yā Rabbi,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan usahanya haram pula, maka kata Rasūlullāh yang menuturkan cerita ini : “Bagaimana mungkin doanya itu mustajab?”


Fasaad,  dilihat dari 3 sisi;
(1) salah pendistribusiannya
(2) pengaruh jelek setelah mengkonsumsinya dan
(3) penunaian kewajibannya

ฮ
Walaupun dzat dan kasabnya itu halal tetapi jika dikonsumsi terlalu banyak hingga menyebabkan berlebih-lebihan / israaf maka itu termasuk Matruk / wajib ditinggalkan, karena berpengaruh jelek setelah mengkonsumsinya yakni tidak berkah. 

Firman Allah: “dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-An’am (6) ayat 41)

Atau misalnya seseorang yang bekerja keras hingga meninggalkan wajib sucinya, melalaikan fungsi dan peran risalahnya, melemahkan semangat juang (ruhul jihad)nya. Maka harta yang diperoleh dengan cara seperti ini walaupun jenis usaha (kasab)nya halal, tetapi wajib ditinggalkan (matruk), karena berakibat jelek bagi dirinya dalam kehidupannya diakhirat kelak. Ini adalah orang yang sudah tertipu oleh keindahan kehidupan dunia sambil lupa nasibnya kelak diakhirat.

“kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS Al-Baqarah (2) ayat 212)

Firman Allah:
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS Ash-Shaf (61) ayat 10-12)


ฮ
Terkatagori Matruk (wajib ditinggalkan) harta itu jika salah dalam mendistribusikannya (menginfaqannya).

Walaupun secara dzat dan kasabnya halal tetapi jika dibelanjakan dijalan yang salah maka harta (maal) itu menjadi harta yang Matruk (wajib ditinggalkan). Misalnya ia belanjakan harta itu fisabilit Thaguth. Firman Allah SWT: “ dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah (2) ayat 19)

ฮ
Terkatagori Matruk (wajib ditinggalkan) harta itu jika dikonsumsi tanpa ditunaikan hak (kewajibannya) saat menerima harta halaal tersebut. Seseorang yang bekerja dan berusaha keras kemudian berbuah hasil harta (maal) maka harta yang didapat itu sebenarnya belum layak konsumsi sebelum atau tanpa ditunaikan kewajiban hartanya yaitu INFAQ FI SABILILLAH. “dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila Dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-An’am (6) ayat 41)

“ Hai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Al-Baqarah (2) ayat 267)

ฮ
harta yang
wajib diusahakan

Harta yang wajib diusahakan itu ada 2:
(1)  Harta yang dijanjikan (mau’ud)
(2)  Harta yang diikhtiyari (mukhoyyar)

ฮ
Harta yang dijanjikan (mau’ud) itu adalah harta / rizqi yang dianugerahkan oleh Allah sebagai janji-Nya yang pasti bagi orang yang memenuhi ketaqwaan dan menyempurnakan karya juangnya Fi Sabilillah.
 
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.
dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. “ (QS Ath-Thalaq (65) ayat 2-3)

“ janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran (3) ayat 169)

Harta yang dijanjikan baik didunia maupun kelak diakhirat ini adalah pasti diberikan tanpa ragu. Dan usahanya adalah dengan menyempurnakan ketaqwaan (ketaatan) dan menunantaskan tugas suci juang fisabilillah.


ฮ
Harta yang diikhtiyari artinya adalah harta halaal yang diperoleh melalui usaha atau kerja yang halaal.

Bumi dan segala isinya telah disetting oleh Allah untuk manusia (QS 2/29). Bumi ini dihamparkan oleh Allah menjadi sumber sumber penghidupan bagi manusia (QS 7/10).  “Maka bertebaranlah kalian di bumi, dan carilah oleh kalian sebagian karunia Allâh” (QS 62/10).

"Dialah zat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Oleh karena itu berjalanlah di permukaannya dan makanlah dari rezekinya." (al-Mulk: 15)

Bekerja dan berusaha yang halal hingga mencegahnya dari meminta-minta dan menggantungkan hidup kepada orang lain adalah sebuah karya yang mulia apapun usahanya. Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian ia membawa seikat kayu di punggungnya lantas dijualnya, maka dengan itu Allah menjaga dirinya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka yang diminta itu memberi atau menolaknya." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Sabdanya pula:  "Tidak makan seseorang satu makanan sedikitpun yang lebih baik, melainkan dia makan atas usahanya sendiri,dan Nabi Daud makan dari hasil pekerjaanya sendiri." (Riwayat Bukhari)
Rasulullah SAW bersabda:

اَلتَّاجِرُ الصَّدُوْقُ يُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pengusaha yang jujur akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama para shiddîqîn dan para syuhadâ” (HR Turmudzi)

Hadits-hadits dari Rasulullah dengan periwayatannya yang shahih ini mewajibkan berusaha dengan usaha yang halal untuk memperoleh rizki yang halal. Sekaligus mengecam orang yang mampu bekerja atau berusaha tetapi menganggur dan menyebabkan ia menjadi peminta-minta dan menggantungkan hidupnya kepada orang lain.

Lihatlah bagaimana Musa yang harus menjadi buruh bayaran kepada Ayyub AS selama 8 atau 10 tahun. Puteri-puteri Ayyub AS berkata : "Hai, ayah! Ambillah buruh dia itu (musa), karena sebaik-baik orang yang engkau ambil buruh haruslah orang yang kuat dan terpercaya." (al-Qashash: 26).

Sabda Rasulullah SAW pula: "Tidak makan seseorang satu makanan sedikitpun yang lebih baik, melainkan dia makan atas usahanya sendiri,dan Nabi Daud makan dari hasil pekerjaanya sendiri." (Riwayat Bukhari)

Disusun
Oleh: M iman taufiqurrahman
11 Februari 2011, Bandung

*catatan: tulisan ini bersambung kepada tulisan yang bertajuk “Hak dalam Harta yang mensucikan” (insya Allah)







Read More »»»

Jumat, 04 Februari 2011

Dakwah itu WAJIB dan PERLU ~~~oleh: m iman Taufiqurrahman


ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (( 6/125))
Seruan langit kepada insan penghuni bumi adalah “serulah (manusia) kepada sabili Rabbik (jalan Tuhanmu)” (6/125). Seruan suci dan memuliakan seluruh insan  yang menyambutnya sehingga Allah SWT menggelari manusia yang mengorbit (beredar)ditengah tengah masyarakat untuk berdakwah dengan sebutan “KHAIRO UMMAT (Ummat Terbaik)” (3/110) dan juga Allah sebut dengan “AHSANU QAULAN (Ucapan terbaik)” (41/33) .
Rasulullah SAW juga bersabda:
 لِأَنْ يَهْدِيَكَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ. (رواه مسلم).
“Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau (dakwah engkau) maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki onta merah.” (Hadits shahih riwayat Muslim dalam kitab  fadha’il, no. 2406).
Dalam Hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).


Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 125 yang diawali dengan perintah SERULAH!’. Menunjukan bahwa “menyeru manusia” atau dakwah itu hukumnya wajib. Karena asal dari perintah menunjukan kepada wajib kecuali kalau ada dalil lain yang memalingkannya.


Kewajiban dakwah ini kena kepada seluruh manusia mukmin (fardlu ain). Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kepada kita agar menjadi “Ummat” yang selalu berdakwah (3/105), dan teruslah berdakwah seperti yang telah Allah perintahkan kepada kita (42/15).


Dakwah adalah ajakan atau seruan kepada manusia kejalan Rabb (6/125) agar manusia mengabdi kepada Allah dan menjauhi thaguth (39/17, 16/36) dan agar Din Islam tegak dimuka bumi ini (42/13-15).


Bagaimana jika manusia mukmin mulai meninggalkan amanah dakwah ini?
1. Manusia yang meninggalkan amanah dakwah adalah manusia yang EGOIS. Kalau ia benar hanya ingin benar sendiri, kalau ia baik maka ia hanya ingin baik sendirian.  Padahal Rasulullah SAW mengajarkan agar manusia menjadi manusia social yang mau belajar qur’an dan mengajarkan Qur’an kepada orang lain.
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.
”Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”. (HR. al-Bukhari dan al-Tirmizi)
2. Manusia yang meninggalkan amanah dakwah adalah manusia DAYUS, yaitu manusia yang enggan melakukan perubahan dan perbaikan sosial. Allah SWT mengancam  Adzab bagi manusia yang berpangku tangan dari keburukan dan kejahatan social tanpa mau berpartisifasi membereskannya dengan gerakan dakwah. Lihat kisah di adzabnya Bani Israel ketika ia diam tidak mengingatkan  masyarakat untuk berhenti menodai hari sabat (7/164-165)
3. manusia yang meninggalkan amanah dakwah adalah manusia terlaknat. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya. Hendaklah kalian benar-benar melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Dan Hendaklah kalian benar-benar mengambil tangan orang yang bodoh dan membawanya kepada kebenaran atau ALLAH benar-benar akan memukul hati sebagian kalian dengan sebagian lainnya, kemudian melaknat kalian sebagaimana ALLAH melaknat mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/161)
4. Mengundang adzab Allah. Dari sahabat Abu Bakar ra, beliau berkata: sesungguhnya kami pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kedzaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka ALLAH akan meratakan adzab kepada mereka semua. (Shahih. HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
5. Terhalang terkabulnya do’a. Rasulullah bersabda,”Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu, maka sungguh ALLAH akan mengirimkan kepada kalian siksa-Nya kemudian kalian berdo’a kepada-Nya akan tetapi ALLAH tidak mengabulkan do’a kalian.” (Shahih. HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Read More »»»

Senin, 31 Januari 2011

RASUL PEMBEBAS RAKYAT TERTINDAS oleh: m iman taufiqurrahman


“Kaum Musa berkata: "Kami Telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah akan melihat bagaimana perbuatanmu” (QS Al-A’raf (7) ayat 129)


Bani Israel pada masa Ramses II (Fir'aun) benar-benar hidup dibawah penjajahan dan pemerasan. Kemiskinan, kebodohan, ketidak amanan, kelaparan dan pembunuhan menjadi berita sehari-hari yang menarik para jurnalis. 

Bani Israel dihisap darahnya dan diperas keringatnya tanpa penghargaan kemanusiaan dari Penguasa TIRANIK (THAGUTH) FIR'AUN. Qur'an menyebutkan bahwa Fir'aun telah bertindak amat dzalim dan bengis, menjadikan Bani Israel berpecah belah dan bahkan sampai menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka (QS 28/ 4)

Keadaan itu berlangsung terus, hingga Allah SWT memberikan KARUNIA-NYA kepada kaum Mustadzafien (tertindas) dengan mengutus Musa AS sebagai Imam (Pemimpin) rakyat tertindas agar terbebas dari segala bentuk penindasan manusia oleh manusia (QS 28/5)

Pemimpin yang membawa Bani Israel sebagai rakyat tertindas pada perjuangan untuk KEMERDEKAAN BANGSA, KEMERDEKAAN UMMAT bahkan hingga KEMERDEKAAN SEJATI. Kemerdekaan inilah yang sangat dikuatirkan oleh Fir'aun dan para elit penguasa Mesir saat itu (QS 28/6)  

Bangkit Pemuda Musa yang tercerahkan oleh hikmah dan ilmu (QS 28 / 14) yang tampil menonjok kekuasaan Fir'aun yang terkenal kuat. Walau demikian Musa muda mesti keluar Mesir (28/20-21) karena buron (28/ 18-19) ketika membantu seorang pemuda Bani Israel (samiri) dari kelaliman aparat kerajaan Fir'aun (Fatun) (QS 28 / 15).

Musa pergi (kabur) ke Madyan dan berguru kepada Nabi Syuaib selama 10 tahun (28/20-28). Setelah itu Musa comeback ke Mesir dengan satu misi "Membebaskan bani Israel dari penjajahan Fir'aun" dengan mengibarkan panji TAUHID(28/29-32). Musa dibekali Allah dengan wahyu / Huda (QS 28/37) dan juga Sulthan (kekuasaan) (QS 28/35) .

Mualailah Musa AS berdakwah kepada Fir'aun,  terjadilah perdebatan sengit antara Musa AS dengan Fir'aun. Perdebatan yang menjadi headline media masa,  walaupun akhir dari perdebatan itu adalah ancaman Fir'aun untuk memenjarakan Musa (QS 26/18-31). 

 Ancaman untuk mengkerangkeng kebebasan berdakwah. Agar Musa AS tidak menyebarkan ide-ide perubahan dan perlawanan terhadap PENJAJAH FIR'AUN. Ancaman / teror penguasa karena tidak sanggup melawan wacana perubahan yang di usung oleh Musa As dan Harun AS.

Musa As juga harus menghadapi Tukang Sihir, yang kala itu adalah para penasehat kerajaan. Musa AS mengalahkan mereka dengan mukjizat (QS 26/32-51). 

Kekalahan tukang sihir Fir'aun tidak menyebabkan ia Taslim (takluk) kepada Musa AS. Sebaliknya Fir'aun menebar teror lebih serius untuk memotong tangan dan kaki siapapun yang mengikuti Musa AS tanpa izin (legalitas) darinya (QS 26/50).

Fir'aun kalap, dan Undang-undang yang dulu pernah di buatnya kini dieefektifkan kembali yaitu "BUNUH" setiap bayi laki-laki dari bani Israel dan hidupkan bayi perempuan mereka (QS 7/127). Aturan ini dulu berlaku ketika Musa masih bayi kini setelah Musa dewasa dan dipandang berpotensi melawan maka undang-undang ini dieefektifkan kembali.

Bayi laki-laki kali ini adalah istilah bagi segala potensi perlawanan, karena di ayat berikutnya (QS 7/128), dikisahkan seorang laki-laki dewasa yang menyembunyikan keimanannya terus berdakwah sir di Mesir. Menyembunyikan keimanannya karena takut ancaman bunuh walaupun secara biologis ia bukan "bayi". 

dalam kisah lainnya justru yang dieksekusi oleh Fir'aun adalah st Masitoh. Seorang Wanita Dewasa yang bekerja di istana Fir'aun. Siti masitoh di hukum mati oleh Fir'aun karena jati dirinyua sebagai pengikut musa terbongkar. Bagi Fir'aun, "Masitoh" adalah "bayi laki laki" karena berpotensi melawan. 

 Sebaliknya Qarun, seorang laki-laki dewasa Bani Israel malah dibiarkan hidup. Qarun dibiarkan hidup karena Qarun berdaptasi dengan kekuasaan dzalim Fir'aun, menjilat dan menyokong Fir'aun. bagi Fir'aun Qarun adalah "bayi perempuan", karena simbol penerimaan terhadap kekuasaannya.

Ancaman / teror negara kepada Musa AS (40/26),  malah dibalas Musa dengan memproklamirkan kerajaan (negara) Islam secara terang-terangan (dakwah jahr)(QS 40/29).
Dengan kekuasaannya, Fir'aun mengendalikan opini publik dengan melakukan pembunuhan karakter Musa AS (QS Zukhruf 51-54). Musa di propagandakan sebagai orang gila, pemecah belah bangsa, perusak, pemberontak, sesat, teroris, miskin, haus kekuasaan dan lain-lain.

Menghadapi itu, Musa As tetap istiqomah dan terus berdakwah sebagai anti propaganda penguasa. Dan Musa juga berdo'a: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan {manusia} dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat seksaan yang pedih." 89~ Allah berfirman: "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sesekali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui." { Yunus : 88 sehingga 89 }

 Perang antara Musa AS dengan Fir'aun terus berlanjut. Propaganda hitam penguasa dzalim terhadap aktor aktor risalah tidak berhenti, pendekatan persuassif yang dipimpin Bal'am Bin Baurah terus digalang, Tindakan repressif intimidasi juga terus berlaku. 

Allah kemudian menimpakan berbagai bencana sebagai adzab. Kemarau yang berkepanjangan yang menyebabkan Mesir mengalami krisis pangan (QS 7/131). Sementara itu, Media Masa penguasa terus mempropagandakan bahwa kesialan ini karena ulah Nabi Musa dan para pengikutnya (QS 7/132-133). Para pengikut Risalah ditangkap sebagai tersangka teroris. 

 Sampai Allah mengadzab mereka dengan taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas  (QS 7/134). Akhirnya mereka mati kutu dan membuat deal politik untuk membebaskan Musa dan pengikutnya dari kerangkeng penjara dan membiarkan Musa AS dan para pengikutnya pergi asal Musa ikut membantu menyelesaikan krisis nasional dan berdo'a kepada Allah agar dihilangkannya adzab (QS 7/134-135)

 Maka mulailah Nabiyullah Musa dan para pengikutnya hijrah menuju PALESTINA. Ternyata Fir'aun memang PEMBOHONG. Bukannya Musa As dan pengikutnya dibiarkan pergi tetapi diburu dengan mengerahkan angkatan perang dengan jumlah besar. sampai Musa As tertahan dalam pelariannya ditepi laut merah. 

 Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha' bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?" Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan kaumnya?"

Nabi Musa menjawab: "Janganlah kamu khuatir dan cemas, perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan Dialah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim itu."

Situasi benar benar mencekam penuh ketakutan, sebagian dari pengikut Musa AS yang takut mati membelot dan mendukung Fir'aun.  Disinilah KEIMANAN benar benar diuji. Disini FURQAN benar benar JAHR (nyata).

Mulailah angkatan perang kerajaan Fir'aun menyerbu Pasukan Musa AS. 
Mukjizat, pertolongan Allah turun. Laut terbelah dua menjadi jalan bagi pasukan Musa AS untuk menyebrang ketepian pantai disebrangnya. Fir'aun memerintahkan pasukannya terus menyerbu dan memburu pasukan Musa AS dengan melintasi laut yang telah terbelah. Tetapi saat pasukan Musa berhasil sampai ke tepian pantai sebrangnya dan ketika Fir'aun dan tentaranya ada ditengah jalan tersebut, maka laut menyatu kembali dan Fir'aun beserta seluruh kroni dan tentaranya habis mampus tenggelam (QS 20/77-79, 26/ 60-68, 10/90-92). TERBEBASLAH BANI ISRAEL dri Cengkraman penjajahan Kerajaan Fir'aun. 

-  -   -   -   -   -

Sungguh Rasul diutus untuk membebaskan manusia dari penguasa dan masyarakat yang dzalim (29/31, 28/58-59, 17/16) dan sungguh masyarakat terus menerus ada dalam ketertindasan (didzalimi) jika tidak mau menerima dakwah Tauhid yang digemakan para Rasul (4/76). Disinilah tujuan Allah mengutus Rasul sebagai RAHMATAN LIL AALAMIN (QS 21/107)

http://www.facebook.com/topic.php?topic=17753&uid=157290971865#!/notes/muhammad-iman-taufiqurrahman/rasul-pembebas-rakyat-tertindas-oleh-m-iman-taufiqurrahman/10150096333129253
Read More »»»

Rabu, 26 Januari 2011

Meraih RIDHA ALLAH (MARDHATILLAH) oleh M Iman Taufiqurrahman

MERAIH RIDHA ALLAH

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia 
ada orang yang mengorbankan dirinya 
karena mencari keridhaan Allah; 
dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” 
(QS Al-Baqarah 2/207)

Ridha Allah adalah puncak dari CITA-CITA seorang Hamba Allah SWT. Seorang Hamba Allah akan mengorbankan apa saja agar dapat diridhai Allah. 

Dalam kisah Hijrah ke Thaif. Rasulullah SAW dan Zaid Bin Haritsah di usir dan dilempari batu oleh penduduk thaif, sambil terus dikata katai seperti mengusir orang gila yang busuk. Padahal besar harapan Rasulullah SAW, Thaif menjadi tempat yang kondusif setelah di Makkah beliau dan para pengikutnya disiksa, dibui bahkan ada yang dibunuh (8/30). 

Rasulullah SAW kembali ke Makkah dengan hati yang pedih karena dihina dan tubuh penuh luka akibat lemparan batu para penduduk THAIF. Di tengah perjalanan sambil menikmati perih dan lukanya beliau berteduh , dirindangnya pohon anggur, sekedar melepas rasa lelah. 

Pada saat itulah beliau berdo’a: "Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! KEPADA SIAPA DIRIKU HENDAK ENGKAU SERAHKAN? KEPADA ORANG JAUH YANG BERWAJAH SURAM TERHADAPKU, ATAUKAH KEPADA MUSUH YANG AKAN MENGUASAI DIRIKU ? JIKA ENGKAU TIDAK MURKA KEPADAKU, MAKA SEMUA ITU TAK KUHIRAUKAN, KARENA SUNGGUH BESAR NIKMAT YANG TELAH ENGKAU LIMPAHKAN KEPADAKU. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.“

Walau belum terhempas perih dihati dan sakit ditubuhnya karena cacian, pukulan dan lemparan batu orang Thaif beliau mengadu kepada Rabb-Nya: “KEPADA SIAPA DIRIKU HENDAK ENGKAU SERAHKAN? KEPADA ORANG JAUH YANG BERWAJAH SURAM TERHADAPKU, ATAUKAH KEPADA MUSUH YANG AKAN MENGUASAI DIRIKU ? JIKA ENGKAU TIDAK MURKA KEPADAKU, MAKA SEMUA ITU TAK KUHIRAUKAN, KARENA SUNGGUH BESAR NIKMAT YANG TELAH ENGKAU LIMPAHKAN KEPADAKU.” 

Tak mengapa tubuh ini dipuku, dilempari batu diteror, dicaci maki asal ENGKAU TIDAK MARAH KEPADAKU asal ALLAH RIDHA KEPADAKU. Tak mengapa manusia seluruhnya diplanet bumi ini membenci kepadaku asal Engkau Tetap Ridha kepadaku. Bahkan setelah aku diteror hendak KAU lempar aku ke siapa lagi, kepada musuh yang lebih kejam?, aku Ridha asal satu saja ENGKAU TIDAK MARAH KEPADAKU.

Inilah manusia yang telah menetapkan pilihannya (syahadah) untuk memilih Allah dan menjadikan keridhaanNya sebagai PUNCAK CITA CITANYA YANG MULIA. Tidak peduli penilaian manusia yang penting Allah Ridha, tak peduli reaksi manusia yang penting Allah Ridha.

Seluruh langkah kakinya selalu diukur dengan orientasi yang jelas yaitu APAKAH ALLAH RIDHA dengan apa yang akan saya lakukan?. Karena dalam KERIDHAANNYA ada Kasih SayangNya ada PemberianNya, ada PerlindunganNya ada kelezatan ruhani dan fisik yang nyata.

Orientasi Ridha Allah adalah kongkrit, jelas, tidak abstrak, karena Allah telah menetapkan ukuran dengan sejelas jelasnya. 

Ridha Allah didunia adalah “TEGAKNYA DINUL ISLAM” (5/3)  dalam wujud KHILAFAH ISLAM (24/55) dan di akhirat adalah JANNAH ALIYAH (surga) (69/21-22). Maka demi meraih FATAH (TEGAKNYA KHILAFAH) dan demi meraih FALAH (SURGA) setiap manusia mukmin akan bekerja keras, banting tulang bahkan berkorban baik harta maupun jiwanya.
Read More »»»

Selasa, 28 Desember 2010

Kamuflase / At-Tamwiyah :: (sifat munafiq ~2~) by: m iman taufiqurrahman


by: m iman taufiqurrahman
[4:142] Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
Dalam ayat ini dijelaskan dua sifat munafiq: [1] malas melaksanakan tugas pengabdian dan: [2] riya (ingin dilihat / dipuji) jika melaksanakan tugas pengabdian.

Orang mukmin yang terkenai sifat munafiq ini, tetaplah mukmin (munafiq sifati), tetapi dalam hatinya ada penyakit [2:8-9], seandainya tidak segera diobati maka dia akan menjadi Munafiq Khalishan (munafiq sejati).

Sementara munafiq sejati adalah orang kafir yang sengaja masuk kedalam barisan islam dan merusak islam dari dalam (munafiq Madinah), atau orang kafir secara idiologi, tetapi mengaku muslim (munafiq haulal Madinah), dan menghambat barisan Islam untuk mencapai tujuan sucinya [9:101] yaitu tegaknya Khilafah Islam. Baik Munafiq sifati maupun munafiq Khalishan tetap saja munafiq.

***
Amal yang dikerjakan kaum munafiq hanyalah KAMUFLASE dan alat penipu ummat islam. Kamuflase artinya bahwa amal / pekerjaan orang munafiq semata-mata hanya merupakan penyamaran agar dianggap dan diterima oleh masyarakat muslim lainnya. Mereka mengerjakan suatu amalan bukan karena dasar keyakinan, oleh karena itu mereka malas (kassal) dan seandainya dikerjakanpun dengan syarat dilihat orang lain (riya). “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia”

Jika mereka diperintah dengan amal yang kurang POPULER mereka malas (KASSAL) tetapi jika diperintah dengan perintah yang akan mengangkat populariutasnya di tengah masyarakat dia kerjakan (riya). Riya itu jika kepada sesame atau bawahan untuk mencari popularitas dan jika kepada pimpinan / Rasul adalah untuk ‘menjilat’.

***
Orang munafiq selalu mencari-cari proyek amal yang akan membuat dirinya menjadi ‘dipandang’ hebat atau pahlawan. Sebab dengan begitu maka ucapannya menjadi mudah didengarkan (baca: mempengaruhi) kaum muslimin. Performance yang hebat dan retorika yang fasih hanya kamuflase saja agar memuluskan agenda tersembunyi-nya yaitu menghancurkan Cahaya Islam, meredam gerakan penegakan khilafah, atau agar gerakan penegakan khilafah berhenti sejenak dan atau terintangi.

[63:4]
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

***
Seringkali jika tugas pengabdian itu penuh resiko dan tidak ada celah untuk mencari popularitas atau menjilat pimpinan, bukan hanya membuat kaum munafiqun itu MALAS, bahkan TAKUT. Oleh karena itu kerap mereka mengajukan ijin untuk tidak melaksanakan tugas pengabdian tersebut.

[9:45]
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 45)

***
Adapun orang mukmin sejati maka apapun tugas pengabdiannya baik yang ia suka maupun tidak suka, baik yang bisa mengangkat popularitasnya maupun tidak, baik yang sukar maupun mudah, baik yang menguntungkan maupun merugikan, akan dilaksanakan tanpa kassal (malas) dan tanpa riya (ingin dipuji atau menjilat pimpinan). Tidak akan mundur dan tidak akan meminta ijin untuk tidak menunaikan tugas pengabdiannya.

[9:44]
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 44)
Read More »»»

Rabu, 08 Desember 2010

:: OPPORTUNIS :: (sifat munafiq 1) by: M. Iman Taufiqurrahman

[4:141] (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mu'min). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata : "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata : "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mu'min ?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman

Salah satu sifat kaum munafiqun adalah OPPORTUNIS, yaitu selalu mencari keuntungan dalam suatu kesempatan secara tidak “fair”. Sekaligus, orang yang opportunis, selalu menghindar dari suatu konsekwensi yang merugikan (tidak mau bertanggung jawab).

Kaum munafiq adalah kaum yang Oportunis, mereka selalu mencari-cari kesempatan dalam Islam untuk meraih keuntungan. Keuntungan yang hendak diraih bisa Harta, wanita, Kekuasaan atau popularitas. Dalam waktu yang bersamaan mereka juga mencari-cari alasan atau alibi agar terhindar dari konsekwensi yang merugikan.

***
Sebut saja kisah INDISIPLINER elite pemanah (sniper) pada perang Uhud. Dari 50 pasukan elite pemanah, yang diamanahkan untuk tetap bertahan di puncak uhud, hanya tinggal 10 orang. Mengapa?. Karena ke 40 orang pemanah lainya melihat kemenangan sudah ada di tangan kaum mukminin. Kemudian ia melihat rekan-rekan Mujahid lainya di bawah, sibuk memungut Harta Rampasan Perang (ghanimah). Ke 40 orang tersebut melihat ada kesempatan untuk meraup keuntungan dengan cara ikut memungut barang rampasan perang. Tentu saja gerakan indisipliner tersebut diprovokasi kaum munafiq. Mereka meninggalkan pos pertahanan karena “kurang menguntungkan”.

Pertahanan “puncak Uhud” ditinggalkan 40 orang pemanah, padahal Abdullah Bin Zubair RA sudah memerintahkan mereka untuk tetap bertahan sebagaimana amanah Panglima Perang Uhud yaitu Muhammad Rasulullah SAW.

Akibatnya, musuh islam berhasil menguasai pertahanan kunci dan membunuh 10 syuhada (termasuk Abdullah Bin Zubair). Bahkan drama peperangan Uhud berbalik 180 derajat, Musuh Islam berhasil menghantam pasukan Islam.

Rasulullah SAW mendapat luka berat. Lemparan batu-batu musuh mengenai Nabi SAW. beliau jatuh, dan salah satu dari gigi bagian bawah patah dan bibir bawah juga terluka. Musuh lainnya melukai dahi Beliau. Musuh ketiga memukul Nabi SAW dengan sangat keras dengan pedangnya. Akibatnya dua cincin pengikat helm Nabi SAW menembus ke dalam pipi Beliau. Darah bercucuran dari atas wajah Beliau.

***
Munafiqun Opportunis juga berani merubah ayat-ayat Allah [5:41]. Dirubahnya ayat ayat Allah itu agar sesuai dengan pesan sponsor (penguasa yang dzalim) dan dengan demikian ia meraih sekantung uang perak atau emas dari penguasa [5:42]. Kemudian mereka memutar-mutar lidahnya dan berkata kepada manusia umumnya, bahwa ini adalah berdasar wahyu Allah [2:75-77], padahal bukan berdasar wahyu Allah [3:78]. Mereka adalah para “ulama Suu”, ulama bayaran penguasa yang dzalim (Thaguth).

[3:78] Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN) ayat 78)

***
Munafiqun Opportunis berani membelot dari kepemimpinan Rasul dan membocorkan rahasia-rahasia ummat Islam kepada Thaguth / musuh musuh Islam [60:1]. Itu dilakukan karena ada keuntungan duniawi yang akan diraih atau demi menghindar dari kerugian (menjual informasi rahasia Rasul).

***
Munafiq opportunis juga berani menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan duniawi, baik meraih harta, tahta, wanita atau popularitas

[53:29] Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. (AN NAJM (BINTANG) ayat 29)


Inilah: OPPORTUNIS sebagai salah satu sifat Munafiq. Semoga kita terhindar.
Read More »»»