Tampilkan postingan dengan label HAKIKAT KEMANUSIAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAKIKAT KEMANUSIAAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 September 2010

MANUSIA, manusia setan dan setan manusia [2] ~ by m iman taufiqurrahman


KEYAKINAN YANG MENYIMPANG ( I”tiqad Musyawwahah )


Musyawwahah artinya adalah menyimpang atau tidak lurus. Menyimpang disini adalah melenceng dari keyakinan Tauhidy. sehingga yang mencelup keyakinan (hatinya) bukan celupan Allah / Tauhid [2:138], tetapi celupan setan.

Manusia yang keyakinannya berhasil dirusak syetan, maka akan mengalami badai kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik (menyekutukan Allah).

Allah SWT mengancam pelaku syirik (musyrikin) dengan ancaman:
~ Tidak akan diampuni dosanya [4:48]
~ Dihapus amal baiknya [39:65]
~ Haram masuk surga [5:72]
~ Tempatnya neraka [5:72]
~ Haram dimintakan ampunan kepada Allah [9:113]
~ Haram berada dalam kepemimpinannya [5:51, 9:23-24]

Syirik itu artinya menduakan, syirik kepada Allah berarti menduakan Allah dalam pengabdian manusia.

Adapun macam-macam kemusyrikan adalah sebagai berikut:
[1] Syirik dalam ke otoritasan Allah

Manusia yang hatinya dikendalikan setan, maka mereka akan berkeyakinan bahwa otoritas tertinggi membuat hukum ada di tangan manusia. Pada intinya mereka (manusia setan) itu su’udzhan (jelek sangka) kepada Allah, mereka memandang bahwa Allah dengan hukumNya tidak sanggup mentertibkan kehidupan manusia, sehingga mereka berani campur tangan dalam membuat hukum. Mereka ikut memerintah (melarang dan memerintah) manusia, padahal mereka tidak ikut menciptakan dan memberi rizki manusia.

Padahal otoritas (kewenangan) tertinggi membuat hukum ada di tangan Allah SWT (QS 12:40, 6:57). Karena Dia-Lah Pencipta dan pemberi rizki manusia.

Adapun manusia setan, memang kurang ajar, mereka berani memberontak pada hak mutlak otoritas Allah dengan cara membuat hukum sendiri (4:60). Si pembuatnya oleh Allah diberi gelar Thaguth (4:60) sementara hukum produknya adalah hukum jahiliyyah (5;50). Adapun yang mengakui, menerima dan atau bahkan mentaatinya disebut penyembah thaguth (5:60).

Atau mereka mencampur adukan hokum Allah ini dengan hukum buatan manusia (2:42), dan inilah kemusyrikan dalam ke otoritasan Allah SWT.


[2] Syirik dalam kedaulatan Allah

Manusia yang hatinya telah dikendalikan setan, maka akan berkeyakinan bahwa kedaulatan itu ditangan manusia, baik ditangan seorang manusia / raja (monarki) atau ditangan manusia kebanyakan (demokrasi). Padahal dunia ini milik Allah dan Allah adalah PEMEGANG KEDAULATAN TERTINGGI atas seluruh makhluqNya. Dialah Al-Malik (penguasa tertinggi) atas seluruh makhluqNya (2:284) dan Dia adalah Maalikin Naas (penguasa manusia) (114:2).

Pemegang kedaulatan tertinggi berarti pemilik kehendak yang mutlak. Apapun yang dikehendakinya mesti terjadi. Dalam system politik yang menganut demokrasi kehendak tertingginya ditangan rakyat. Apapun yang dikehendaki rakyat, maka Negara wajib menjalankannya. Kehendak itu tidak peduli, apakah menentang syari’at atau tidak. Misalnya Allah menyatakan bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin Negara, tetapi dalam system demokrasi wanita bisa jadi pimpinan negara jika rakyat menghendaki. Inilah contoh kemusyrikan dalam kedaulatan Allah.
[3] Syirik dalam ke loyalitasan Allah

Manusia yang hatinya telah dikendalikan setan, maka akan berkeyakinan bahwa ketaatan itu tidak mutlak kepada Allah SWT. Manusia setan bias jadi taat kepada Allah, tetapi juga taat kepada Thaguth. Misalnya ia shalat untuk mentaati aturan Allah, tetapi dalam ekonomi ia malah menerima dan menerapkan hokum KAPITALIS atau SOSIALIS.

Mereka membagi ketaatan. Dalam hal ritual ia taat kepada hokum Allah tetapi dalam ekonomi, politik, social, budaya, pertahanan dan keamanan (IPOLEKSOSBUDMILKAM) ia mentaati hokum yang dibuat oleh manusia. Inilah kemusyrikan dalam keloyalitasan kepada Allah.

Padahal Allah memerintahkan agar beribadah itu adalah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah SWT saja (98:5)

Itulah beberapa contoh kemusyrikan yang merupakan pertanda manusia pelakunya telah dikuasai dan dirusak keyakinannya oleh setan.


Tulisan sambungan dari: MANUSIA , MANUSIA SETAN DAN SETAN MANUSIA (PART 1)
Read More »»»

Senin, 02 Agustus 2010

MANUSIA: Abid Allah atau Abid Thaguth by: m iman taufiqurrahman

Manusia adalah makhluq (ciptaan ) Allah SWT [96:1-2], dia ada di dunia bukan atas kehendaknya, tetapi semata-mata kehendak (Iradah) dan kuasa (qudrah) Allah SWT. Asalnya manusia itu “tidak ada”, menjadi “ada” karena diadakan oleh Allah SWT Sang Pencipta [76:1-3].

Karena yang meng-ada-kan (menciptakan) manusia itu adalah Allah, maka yang tahu tujuan dan untuk apa manusia hidup didunia adalah Allah SWT. Sang Pencipta menyatakan bahwa tujuan manusia diciptakan adalah untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT [51:56].

Karena tujuan penciptaan manusia itu adalah agar manusia mengabdi kepada Allah, maka Ibadah menjadi TUGAS HIDUP manusia [15:99].


Manusia tidak diciptakan oleh Allah untuk menjadi orang kaya atau orang miskin, sehingga menjadi kaya bukanlah kemuliaan dan menjadi miskin bukanlah kehinaan. Tetapi bagaimana kaya maupun miskin menjadi sarana (wasilah) pengabdian (ibadah) kepada Allah SWT. Orang kaya bisa mengabdi dengan cara bersyukur, orang miskin bisa mengabdi dengan cara bersabar. Tidak juga diciptakan untuk menjadi orang cantik, orang terkenal, orang yang tinggi kedudukan sosialnya, tetapi diciptakan agar menjadi HAMBA ALLAH TA’ALA saja.

Ibadah secara tekhnis adalah “TAAT”, yaitu taat kepada Allah SWT dengan murni dan konsekwen menjalankan DIN ISLAM [98:5]. Menjadi Hamba Allah berarti menjadi manusia yang taat menjalankan aturan Allah didalam Din Islam.

Manusia yang sadar akan purwadaksinya, akan menjadi Hamba Allah Ta’ala. Tetapi sebagian besar manusia justru tidak menyadari jati dirinya, bukannya menjadi hamba Allah (Abid Allah), malah menjadi Hamba Thaguth (Abid Thaguth)[5:60].

Abid Thaguth adalah manusia yang rela diatur dengan aturan yang diproduk oleh Thaguth [4:60]. Salah satu makna Thaguth adalah PEMBUAT ATURAN / HUKUM yang tidak bersumber kepada wahyu, hukumnya di dinamakan HUKUM JAHILIYYAH [5:50], sementara pembuatnya disebut Thaguth [4:60]. Jadi “menyembah” thaguth bukan berarti ruku dan sujud dihadapan thaguth tetapi dengan cara taat kepada aturan / hukum Jahiliyyah yang diproduk thaguth.

Allah memvonis para penyembah thaguth itu dengan vonisan syirik (menduakan Allah) dan kafir (menolak hokum Allah) [2:256-257], sehingga pelakunya disebut MUSYRIK dan KAFIR.

Berikut ini perbandingan abid Allah dengan abid Thaguth
1. Abid Allah beribadah kepada Allah [1:5], sementara abid thaguth ibadahnya kepada thaguth [5:60]

2. Abid Allah beribadah kepada Allah dengan cara mentaati hokum Allah saja [12:40, 5:50], sementara abid thaguth ibadahnya kepada thaguth dengan cara mentaati hokum jahiliyyah [5:50], yaitu hokum dan perundang undangan yang dibuat thaguth [4:60]

3. Hukum Allah adalah hokum dan perundang undangan yang bersumber dari wahyu Allah SWT [5:48]. Sementara hokum Jahiliyyah produk thaguth adalah hokum yang digali dan bersumber dari: [1] Prasangka, pikiran atau filsafat [10;35-36], [2] Hawa nafsu [25;43], [3] budaya manusia [5:104], atau [4] suara terbanyak / opini public [6:116].

4. Abid Allah akan mendapat busyra (kabar gembira) dari Allah yaitu surga [39:17]. Sementara Abi Thaguth karena musyrik, maka balasanya:
~ Tidak akan diampuni dosanya [4:48]
~ Dihapus amal baiknya [39:65]
~ Haram masuk surga [5:72]
~ Tempatnya neraka [5:72]
~ Haram dimintakan ampunan kepada Allah [9:113]
~ Haram berada dalam kepemimpinannya [5:51, 9:23-24]

...
Read More »»»

Rabu, 21 Juli 2010

Jalan Para PENGABDI ~ by m iman taufiqurrahman

Mengabdi (Ibadah) kepada Allah Ta’ala adalah “fitrah manusia” . Oleh karena itu mengabdi (ibadah) sudah menjadi tugas hidup manusia. Tidak ada perintah dari Allah SWT kepada manusia kecuali agar manusia mengabdi kepada Allah Ta’ala. Firman Allah Ta’ala: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah (mengabdi kepada ) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. 98:5)

~ pengertian ibadah ~

Al-Ma’luf dalam kamus Al-Munjid mengatakan bahwa ibadah dari segi bahasa mengandung lima arti: (1) Wahhadahu / MengEsa-kan Allah, (2) Khaddamahu / melayani kehendaknya, (3) Khodla’a Lahu / tunduk patuh berserah diri padanya, (4) Dzalla Alaihi / berendah diri dihadapannya, (5) Tho’a lahu / taat pada perintahnya [Almunjid Fillughah, hlm. 326]

Senada dengan Ma’luf, Raghib Al-Isfahany dalam Mufrodat Alfadz Al-Qur’an mengatakan bahwa: “Ubudiyyah adalah menampakan kerendahdirian. Sementara IBADAH berpangkal dari rasa rendah diri. Karena sesungguhnya Ibadah itu adalkah puncak kerendah dirian, dan hal itu tidak bisa dihaturkan kecuali hanya kepada Pemilik puncak keutamaan yaitu Allah Ta’ala” [Mufrodat, hlm. 42].

Pengertian Ibadah menurut bahasa tersebut kemudian dirangkum oleh Ibnu Katsir yang menyimpulkan bahwa Ibadah kepada Allah itu adalah menghimpun tiga kesempurnaan sikap yaitu: (1) Kamaalul Mahabbah / kesempurnaan rasa cinta kepada allah, (2) Kamaalut Tadzalul / kesempurnaan rasa rendah diri dihadapan Allah, dan (3) Kamaalul Khudlu’ / kesempurnaan ketunduk patuhan kepada perintah dan hukum Allah (Tafsir Al-Qur’anul Adzhiem, jilid 1, hlm. 24).
~ rendah diri dan cinta ~

Nampak secara bahasa, bahwa ibadah itu didasari oleh dua rasa yang utama, yaitu rasa cinta kepada Allah dan rasa rendah diri dihadapan Allah Ta’ala.

Tanpa dua rasa yang utama itu tidaklah mungkin seorang manusia sanggup menjadi hamba Allah. Sebab menjadi hamba Allah berarti menjadi “budak” yang mendapat titah perintah Allah. Bagaimana mungkin manusia mau di ‘titah’ oleh perintah Allah dalam kondisi sebagai ‘budak / hamba’ jika masih ada rasa ‘tinggi diri’ dihadapan Allah.

Rasa ‘tinggi diri’ inilah yang pernah membuat Iblis laknatullah gagal menjadi hamba Allah SWT karena membangkang terhadap perintah / hukum Allah. Ketika Allah memerintahkan untuk sujud kepada Adam AS sebagai penghormatan terhadap kekhilafahan Allah dimuka bumi, Iblis enggan sujud karena ‘tinggi diri’ / sombong. Dengan itu, cukup bagi Allah memvonis Iblis sebagai PEMBANGKANG / Kafir (23:34). Iblis membangkang kepada titah perintah Allah karena merasa ‘tinggi diri’. Ia merasa bahwa pilihan Allah kepada Adam AS itu salah. Ada yang lebih baik ,dan lebih pantas jadi khalifah, daripada Adam AS yaitu dirinya (7:12).

Rasa ‘tinggi diri’ ini juga telah menghinggapi manusia modern’ saat ini dimana hukum-hukum Allah ditolaknya karena tinggi diri’. Manusia tinggi diri’ saat ini malah menganggap ada hukum produk manusia yang lebih baik daripada hukum Allah, sehingga ditolaknya hukum Allah tersebut. Sebagaimana terhadap Iblis, Allah SWT juga memvonis manusia yang menolak hukum Allah dengan vonis keras sebgai PEMBANGKANG / Kafir (5:44,45,47).

Rasa cinta juga adalah dasar dan motivasi orang mengabdi. Ada pepatah: “Man Ahabba Syai’an Abadahu” (barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka ia akan mengabdikan diri pada sesuatu yang dicintyainya itu).


Bayangkan jika manusia mentaati Allah Ta’ala tanpa didasari dengan rasa cinta kepada Allah. Pasti menjadi ketaatan yang gersang dan serba terpaksa. Asy-Syahid Imaam Awwal mengingatkan dengan indah: “taat patuh tanpa rasa cinta setia akan merasakan kaku-tegang dan kurus-kering-tandus, laksana suara tanpa irama. Bahkan kadang-kadang terasakan sebagai sesuatu yang keras dan kejam, kasar dan bengis”.


~Taat, tunduk dan patuh~

Kalau rasa rendah diri dan cinta kepada Allah adalah dasar motivasi manusia melakukan pengabdian kepada Allah, maka taat adalah ibadah dalam tataran praktis. Jadi praktek ibadah adalah taat. Taat kepada Allah ta’ala, berarti mentaati perintah / hukum-Nya.

Firman Allah SWT: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. 9:31)

Ayat diatas menegaskan bahwa orang Yahudi dan nashrani menyembah ulama’ dan pemimpin mereka (akhbar dan ruhban). Ada dua pertanyaan mendasar dari ayat ini. [1] kenapa ulama dan pemimpin mereka menjadi Arbab (tuhan tandingan Allah)?, [2] apa yang dimaksud menyembah ulama dan pemimpin itu?

Kedua pertanyaan tersebut dapat digambarkan dalam riwayat berikut ini; “Saya mendatangi Rasulullah dengan mengenakan kalung salib dari perak di leherku. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Adi, lemparkanlah patung itu dari lehermu.” Kemudian saya melemparkannya. Usai saya lakukan, Beliau membaca ayat ini: Ittakhadzû ahbârahum wa ruhbânahum min dûni Allâh, hingga selesai. Saya berkata, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Beliau bertanya, “Bukankah para pendeta dan rahib itu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengharamkannya; menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya.” Aku menjawab, “Memang begitulah.” Beliau bersabda, “Itulah ibadah (penyembahan) mereka kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka.” (HR ath-Thabrani dari Adi Bin Hatim)”.

Para ulama yahudi dan nashrani berani menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah. Berarti mereka telah berani membuat hukum sendiri diluar hukum Allah Ta’ala. Padahal hak membuat hukum adalah hak Allah semata sebagai RABB. Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia (QS Yusuf [12]: 40)

Al-Quran juga menyebut syurakâ’, sekutu-sekutu atau sesembahan selain-Nya yang membuat aturan bagi kehidupan. Allah Swt. berfirman: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? (QS al-Syura [42]: 21).

Itulah sebabnya kenapa dalam QS 9:31 ulama dan pemimpin mereka disebut ARBAB (Rabb / Tuhan tandingan Allah). Sebabnya, karena mereka mensabot hak mutlak Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang berhak membuat hukum.

Ummatnya disebut menyembah ulama’ dan pemimpin karena taat dan mengikuti hukum / aturan yang diproduk mereka.

Menjadi HAMBA ALLAH TA’ALA berarti taat tunduk dan patuh kepada perintah / hukum Allah, tidak kepada hukum yang lainya. Dan ketaatannya tersebut didasari motivasi rasa rendah diri dihadapan Allah dan cinta kepada Allah Ta’ala.
Read More »»»

Selasa, 06 Juli 2010

Manusia, Manusia Setan dan Setan Manusia (part 2) ~ by m iman taufiqurrahman

by: M. Iman Taufiqurrahman
KEYAKINAN YANG MENYIMPANG ( I”tiqad Musyawwahah )


Musyawwahah artinya adalah menyimpang atau tidak lurus. Menyimpang disini adalah melenceng dari keyakinan Tauhidy. sehingga yang mencelup keyakinan (hatinya) bukan celupan Allah / Tauhid [2:138], tetapi celupan setan.

Manusia yang keyakinannya berhasil dirusak syetan, maka akan mengalami badai kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik (menyekutukan Allah).

Allah SWT mengancam pelaku syirik (musyrikin) dengan ancaman:
~ Tidak akan diampuni dosanya [4:48]
~ Dihapus amal baiknya [39:65]
~ Haram masuk surga [5:72]
~ Tempatnya neraka [5:72]
~ Haram dimintakan ampunan kepada Allah [9:113]
~ Haram berada dalam kepemimpinannya [5:51, 9:23-24]

Syirik itu artinya menduakan, syirik kepada Allah berarti menduakan Allah dalam pengabdian manusia.

Adapun macam-macam kemusyrikan adalah sebagai berikut:
[1] Syirik dalam ke otoritasan Allah

Manusia yang hatinya dikendalikan setan, maka mereka akan berkeyakinan bahwa otoritas tertinggi membuat hukum ada di tangan manusia. Pada intinya mereka (manusia setan) itu su’udzhan (jelek sangka) kepada Allah, mereka memandang bahwa Allah dengan hukumNya tidak sanggup mentertibkan kehidupan manusia, sehingga mereka berani campur tangan dalam membuat hukum. Mereka ikut memerintah (melarang dan memerintah) manusia, padahal mereka tidak ikut menciptakan dan memberi rizki manusia.

Padahal otoritas (kewenangan) tertinggi membuat hukum ada di tangan Allah SWT (QS 12:40, 6:57). Karena Dia-Lah Pencipta dan pemberi rizki manusia.

Adapun manusia setan, memang kurang ajar, mereka berani memberontak pada hak mutlak otoritas Allah dengan cara membuat hukum sendiri (4:60). Si pembuatnya oleh Allah diberi gelar Thaguth (4:60) sementara hukum produknya adalah hukum jahiliyyah (5;50). Adapun yang mengakui, menerima dan atau bahkan mentaatinya disebut penyembah thaguth (5:60).

Atau mereka mencampur adukan hokum Allah ini dengan hukum buatan manusia (2:42), dan inilah kemusyrikan dalam ke otoritasan Allah SWT.



[2] Syirik dalam kedaulatan Allah

Manusia yang hatinya telah dikendalikan setan, maka akan berkeyakinan bahwa kedaulatan itu ditangan manusia, baik ditangan seorang manusia / raja (monarki) atau ditangan manusia kebanyakan (demokrasi). Padahal dunia ini milik Allah dan Allah adalah PEMEGANG KEDAULATAN TERTINGGI atas seluruh makhluqNya. Dialah Al-Malik (penguasa tertinggi) atas seluruh makhluqNya (2:284) dan Dia adalah Maalikin Naas (penguasa manusia) (114:2).

Pemegang kedaulatan tertinggi berarti pemilik kehendak yang mutlak. Apapun yang dikehendakinya mesti terjadi. Dalam system politik yang menganut demokrasi kehendak tertingginya ditangan rakyat. Apapun yang dikehendaki rakyat, maka Negara wajib menjalankannya. Kehendak itu tidak peduli, apakah menentang syari’at atau tidak. Misalnya Allah menyatakan bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin Negara, tetapi dalam system demokrasi wanita bisa jadi pimpinan negara jika rakyat menghendaki. Inilah contoh kemusyrikan dalam kedaulatan Allah.
[3] Syirik dalam ke loyalitasan Allah

Manusia yang hatinya telah dikendalikan setan, maka akan berkeyakinan bahwa ketaatan itu tidak mutlak kepada Allah SWT. Manusia setan bias jadi taat kepada Allah, tetapi juga taat kepada Thaguth. Misalnya ia shalat untuk mentaati aturan Allah, tetapi dalam ekonomi ia malah menerima dan menerapkan hokum KAPITALIS atau SOSIALIS.

Mereka membagi ketaatan. Dalam hal ritual ia taat kepada hokum Allah tetapi dalam ekonomi, politik, social, budaya, pertahanan dan keamanan (IPOLEKSOSBUDMILKAM) ia mentaati hokum yang dibuat oleh manusia. Inilah kemusyrikan dalam keloyalitasan kepada Allah.

Padahal Allah memerintahkan agar beribadah itu adalah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah SWT saja (98:5)

Itulah beberapa contoh kemusyrikan yang merupakan pertanda manusia pelakunya telah dikuasai dan dirusak keyakinannya oleh setan.


Tulisan sambungan dari: MANUSIA , MANUSIA SETAN DAN SETAN MANUSIA (PART 1)
Read More »»»

Kamis, 01 Juli 2010

MANUSIA, manusia setan dan setan manusia [1] ~ by m iman taufiqurrahman

by: m. iman taufiqurrahman

[58:19] Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

[58:20] Sesungguhnya orang-orang yang menetang Allah dan RasulNya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.

Setan adalah Manusia dan Jin [114:6], yang secara sadar mengganggu manusia agar menyimpang dan menentang dari JALAN ALLAH [15:39-40]. Adapun titik tuju (sasaran) dari GERAKAN setan adalah Aqliyah (pola pikir), I’tiqadiyah (keyakinan), ma’nawiyah (sikap mental) dan Amaliyah (perilaku) manusia. Sehingga seandainya keempat sasaran serang setan itu dapat dikuasai oleh setan, maka lahirlah manusia manusia yang “terkuasai setan”, atau manusia yang berada dibawah kendali setan / manusia setan.
Pada gilirannya nanti, manusia-manusia yang berada dibawah kendali setan itu menjadi “HIZBU SYAITHAN” (golongan setan). Jika sudah menjadi golongan setan berarti ia adalah setan itu sendiri yang kerjanya adalah menentang Allah dan RasulNya.

skemanya adalah sebagai berikut:
[1] --> Setan menyerang pola pikir, keyakinan, sikap mental dan perilaku manusia => GERAKAN SETAN
[2] --> Manusia dikuasai setan baik pola pikir, keyakinan, sikap mental dan perilakunya. Jadilah manusia yang dikuasai Setan =>
MANUSIA SETAN
[3] --> Manusia Setan menjadi hizbus Syaithan (golongan setan) yang kerjanya menyerang manusia dari jalan allah =>
SETAN MANUSIA


POLA PIKIR JAHILY

Jahily artinya adalah kebodohan atau tidak cerdas. Ketidak cerdasan disini bukan bodoh dari ilmu pengetahuan / science. Kebodohan dalam terminologi ini adalah ketidak berhasilannya dia menerima Tauhid [47:19], sehingga yang mencelup pola pikirnya bukan celupan Allah / Tauhid [2:138], tetapi celupan setan.

Manusia yang pola pikirnya telah tercelup dengan celupan setan, maka kerangka berpikirnya bukan wahyu Allah tetapi Ra’yu / persangkaan manusia / filsafat [10:35-36].

Adapun contoh-contoh manusia yang pola pikirnya jahily akan menetapkan kebenaran berdasar isme-isme jahily seperti:

[1] Materialisme [maadiyah]

Materialisme hanya menerima kebenaran jika dapat dibuktikan secara materialis (terlihat, teraba, terdengar). Manusia yang berpola pikir materialisme tidak akan menerima entitas entitas non material. Akhirat (surga neraka), Malaikat, bahkan Allah tidak diterima dan dibenarkan karena bersifat ghaib, dan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Materialisme hanya meyakini realitas satu-satunya adalah dunia materi yang syahadah (nampak) sementara hal-hal ghaib dianggap sebagai KEBOHONGAN.

Kaum Musa pernah membantah Musa AS tentang Allah SWT, karena Allah tidak terlihat. [“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang , karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya ". (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 55)

[1] Rasionalisme [aqlaniyah]

Rasionalisme hanya menerima kebenaran jika dapat dibuktikan secara rasional (masuk akal / rasio). Rasionalisme masih bisa menerima entitas-entitas non material, selama sejalan dengan rasio manusia. Jika materialisme berkeyakinan bahwa realitas satu-satunya adalah materi, maka rasionalisme meyakini bahwa realitas satu-satunya adalah rasio.

Rasionalisme juga masih bisa berkompromi dengan wahyu, jika wahyu Allah itu sejalan dengan nalarnya.

Rasionalisme pada gilirannya nanti, membebaskan rasio manusia untuk menerima apapun yang sejalan dengan rasionya. Bahkan, membebaskan rasio manusia untuk menggugat doktrin-doktrin wahyu Allah (Qur’an) jika dipandangnya tidaK rasional.

Hukum dua bagian untuk laki-laki dan satu bagian bagi perempuan dalam hukum waris, hukum wanita tidak boleh menjadi imam, hukum rajam, potong tangan, qishash, dll, menjadi sasaran empuk kritikan kaum rasionalisme. Karena aturan aturan tersbut dipandang tidak rasional, tidak relevn, tidak sesuai dengan Zaman dll.

Rasionalisme ini pada kesempatan kini berbaju SEKULARISASI, PLURALIS, LIBERALIS [SPILIS].

Al-Qur’an menyatakan bahwa RASIONALISME adalah bentuk dari kekafiran berpikir. “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” [53:23]

Iblis Laknatullah pernah mempertontonkan ke rasionalismeannya dihadapan Allah dan mengkritik kebijakan Allah yang menempatkan Adam As sebagai Khalifah di muka bumi, sementara menurut ‘rasio’ Iblis, saya lebih baik daripada Adam AS [7:12].

[1] eksistensialisme [wujudiyah]

Eksistensialisme meyakini bahwa kebenaran itu bersifat relatif, sehingga ukuran kebenaran itu hanyalah dirinya. Benar jika menurut dirinya benar, tidak peduli apakah itu benar atau salah berdasar wahyu Allah SWT. Eksistensialisme menentukan kebebasan manusia untuk berkeinginan, satu-satunya pembatas adalah kebebasan orang lain. Manusia boleh berkeyakinan dan berbuat apa saja 9 boleh jadi kafir, musyrik, munafiq atau fasiq) sesuai keinginannya, asal tidak merugikan manusia yang lain.

Apapaun yang diyakini dan diperbuat manusia ukurannya hanyalah satu: apakah sesuai dengan keinginannya dan menguntungkan dirinya?, tidak ada pertanggung jawaban di akhirat.

[6:29] Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan" . (SURAT AL AN'AAM (Binatang ternak) ayat 29)

RASIONALISME , MATERIALISME, EKSISTENSIALISME ADALAH CONTOH-CONTOH KEKAFIRAN DALAM BERFIKIR. CONTOH MANUSIA YANG POLA PIKIRNYA TELAH DIKUASAI SETAN.
TO BE CONTINUED
Read More »»»

Minggu, 27 Juni 2010

Fitrah Manusia ~ by m iman taufiqurrahman

by: m iman taufiqurrahman

~ Pengertian fitrah ~


Fitrah adalah bahasa arab, yang arti asalnya adalah “menciptakan”, seperti dalam QS 35:1, disana Allah sebagai “FAATIRU samawati wal ardhi” (Pencipta langit dan bumi).

Dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Mandzhur menulis salah satu makna ‘fitrah’ dengan arti (Al-Ibtida wal ikhtiro / memulai dan mencipta). Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa FITRAH adalah penciptaan awal atau asal kejadian. FITRAH adalah kondisi "default factory setting", suatu kondisi awal sesuai desain pabrik.

Sebagai ilustrasi misalnya suatu barang, sebut saja “gelas”. Gelas pada awalnya diciptakan (dibuat) dengan tujuan sebagai alat minum, maka fitrah-nya gelas adalah sebagai alat minum. Si pembuat gelas (pabrik) pasti telah m
emilih bahan, proses dan desain produknya sesuai dengan tujuan ia membuatnya. Oleh karena itu maka gelas itu sangat cocok dan pas dipakai sebagai alat minum karena sesuai dengan fitrahnya.

Pertanyaan berikutnya, apakah gelas itu bisa dipakai sebagai alat mandi?. Jawabnya tentu bisa. Tetapi yang perlu diperhatikan, pasti tidak nyaman memakainya dan si gelas itu akan cepat rusak.

~ Fitrah manusia ~

Allah telah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi Hamba Allah yang pandai mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Firman Allah SWT: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56).

Allah Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Mushowwir (Pendesain) , pasti telah mendesain penciptaan manusia baik dari bahan dan prosesnya, sedemikian rupa agar hasil akhirnya lahir suatu makhluk manusia yang bisa mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT. Jadi fitrahnya manusia adalah mengabdi ataui beribadah kepada Allah SWT.

Karena fitrahnya manusia adalah mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT, maka manusia dengan struktur jasmani dan rohaninya pasti bisa dipakai untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah. Rohani dan jasmani manusia pasti cocok dan pas dip
akai untuk
beribadah. Sebaliknya jika dipakai maksiat (membangkang) kepada Allah pasti tidak nyaman, dan dipastikan pasti bakal cepat rusak dan celaka. Sungguh kecelakaan manusia adalah karena penyimpangan dari “FITRAHNYA”.

Seandainya manusia telah lama dan jauh menyimpang dari fitrahnya maka kadang manusia telah merasa nyaman dengan kemaksiatan. Tetapi yang perlu dicatat itu hanyalah sementara karena pada ujungnya pasti bakal rusak / celaka karena penyimpangan dari fitrahnya. Firman allah: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. 6:44)
Read More »»»